TIKUS BERDASI YANG SELALU LAPAR DAN BERKELIARAN MENCARI MANGSA, DIMANAKAH SANG KUCING?

Tikus Berdasi adalah perumpamaan seorang Koruptor.

Menurut saya dalam lirik lagu ini (Tikus-tikus kantor – Iwan Fals) bercerita tentang para pekerja di kantor yang selalu ingin mendapatkan hasil yang memuaskan padahal mereka bekerja dalam bidangnya tidak semaksimal mungkin yang diinginkan. Membuat perumpamaan manusia sebagai binatang sudah kerap ditulis Iwan Fals dalam lirik-lirik lagunya.

Dalam lagu ini Iwan bermain di Kucing dan Tikus. Tikus disini digambarkan adalah sosok pegawai kantor yang rakus, licik dan penjilat. Contohnya para pejabat Indonesia yang selalu ingin mengambil hak milik orang lain dengan berkorupsi, baik materi ataupun dengan barang-barang yang mereka punya. Sedangkan kucing disini diterjemahkan sebagai sosok pimpinan yang tidak disiplin dan suka korupsi atau terima suap.

Seperti pada lirik yang “Masa bodoh hilang harga diri asal tidak terbukti ah”. Pada lirik disitu bercerita mengenai para pekerja di Indonesia baik pejabat maupun kantor sama saja apabila sudah tersangkut kasus korupsi mereka rela dengan sadarnya berbohong kepada publik bahwa mereka telah korupsi dan mengambil uang rakyat. Saya pribadi sangat senang mendengarkan lagu ini karena benar-benar menyindir para pejabat yang korupsi, tetapi mereka tidak pernah sadar bila banyak dari musisi-musisi di Indonesia menyindir mereka karena mereka berbuat yang seenaknya.

Pada inti yang saya tangkap adalah Perpaduan yang bagus, mengingat karakter kedua binatang tersebut mirip dengan karakter orang-orang yang bersifat seperti itu. Coba perhatikan orang-orang model penjilat seperti tikus dalam lagu ini. Hampir mudah kita jumpai di setiap kantor-kantor instansi pemerintahan/swasta. Bawahan yang menjilat atasannya, berlagak sopan dan baik didepan atasannya. Namun begitu atasannya pergi, mulailah mereka bertindak kotor dan berbuat kasar. Begitu juga orang-orang model kucing seperti dalam lagu ini. Seorang atasan atau pimpinan instansi yang kerap mempersulit urusan bawahannya. Lalu dengan terang terangan meminta uang suap untuk melancarkan urusan itu. Ini sudah bukan rahasia lagi, dimana-mana mudah kita jumpai. Pantas saja negara ini menjadi surganya para koruptor karena tindakan mereka yang tidak diancam dengan hukuman yang tegas. Bahkan para koruptor diperbolehkan untuk menjadi CALEG. Heuheuheu


Kejahatan akan menang bila orang yang benar tidak melakukan apa-apa.

Jendral Besar Raden Soedirman

BUAT ANAK-ANAK KITA

Najwa Shihab

Inilah zaman dimana saya tidak mendidik anak-anak saya untuk menjadi seperti doktrin orang tua dulu. Adik-adik remaja, jika kalian masih bercita-cita jadi PNS, biar besok hidup terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi luama sekali, orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu. Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya. Jika kalian bercita-cita jadi karyawan multi nasional company, perusahaan swasta besar, biar bisa tugas di luar negeri, tunjangan dollar, itu juga cita-cita kakak-kakak kita dulu, yang SMA angkatan 2000-an. Kalian adalah generasi berbeda. Kalian adalah yang SMP, SMA, atau kuliah di tahun 2010 ke atas. Seharusnya kalian tidak bercita-cita seperti itu lagi. Kalian adalah warga negara dunia, tersambung dengan seluruh sudut dunia. Apa cita-cita kalian?

Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi pekerjaan bebas, dan pekerjaan yang menakjubkan lainnya. Kalian menonton film seperti Iron Man, Avengers, Minion, maka besok giliran film kalian yang ditonton orang. Kalian jadi konsumen Burger King, KFC, dll, maka besok giliran orang lain yang jadi konsumen franchise milik kalian. Hari ini kalian memakai baju, pakaian buatan orang lain, besok giliran orang lain yg pakai baju kalian. Hari ini kalian berobat ke rumah sakit, besok giliran orang yang berobat di klinik dengan sistem dan cara berbeda milik kalian. Itulah dunia kalian. Masa depan. Jangan mau hanya jadi pengikut, follower, tapi berdiri di depan, giliran orang lain yang mengikuti dan mendengarkan trend yg kita buat. Maka saat itu tiba, kita bisa benar2 bilang: Merdeka!! Ayolah, lupakan sejenak bekerja jadi PNS, karyawan BUMN, atau karyawan swasta, masuk pagi, pulang malam. 30-40 tahun bekerja, pensiun. Itu sudah terlalu banyak orang yang melakukannya, masak kita akan ikut jalan serupa, saatnya kalian memulai jalan berbeda. Jangan takut dengan kegagalan, jangan takut dengan tidak punya pekerjaan, menganggur, dll, dll. Sepanjang kita memang sungguh-sungguh, tahan banting, kita bisa menjadi yang terbaik di bidang yang kita geluti. Setinggi apapun jabatan kalian, jika masih PNS, karyawan BUMN, karyawan swasta, maka sejatinya tetap saja suruhan orang lain. Punya atasan, dan hidup kita laksana siklus dari bulan ke bulan, gajian ke gajian. Asyik duduk di belakang meja, lamat-lamat menatap media sosial, komen ini, komen itu, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi tetap saja begitu-begitu saja hidup kita. Tidak, adik-adik sekalian, hidup kalian bisa lebih berwarna. Kalian bisa jadi apa saja. Jangan buat sempit cita-cita, mimpi-mimpi kalian. Generasi kalian seharusnya tidak terikat waktu, tidak korupsi waktu, sebaliknya, kalian bebas dan fleksibel menentukan jam kerja sendiri. Yakinlah, besok lusa, karya kalian akan menaklukkan kota-kota jauh, bahkan negara-negara jauh. Besok lusa, profesi kalian akan memiliki reputasi hingga pulau-pulau seberang, benua-benua luar. Kalian bukan lagi generasi yang bahkan naik pesawat saja mahal dan susah. Atau mau berkirim kabar harus memakai telegram dan pager. Sambutlah masa depan kalian yang gemilang.Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi-profesi penuh passion dan suka-cita. Itulah panggilan generasi kalian. Dan saat kalian bisa menggapainya, kalian bisa berteriak sekencang mungkin: Merdeka! Karena hidup kalian sungguh sudah merdeka. Mulailah dari sekarang, remaja. Cari hobi dan aktivitas bermanfaat. Tekuni. Besok-besok kalian menjadi master di bidang tersebut. Maka kita tidak lagi bicara tentang besok pagi2 berangkat kerja, sore2 pulang nanti macet, aduh, besok sudah Senin lagi, melainkan bicara: besok saya akan menginspirasi siapa, nanti sore saya akan mengubah apa, dan besok Senin saya akan meluncurkan karya apa lagi.

Tulisan ini sederhana dan mudah dipahami, namun perlu effort untuk menyikapi agar bisnis kita tetap sustain: The Phenomenon: Dalam 3 bulan terakhir muncul diskusi publik yang menarik mengenai fenomena turunnya daya beli konsumen kita yang ditandai dengan sepinya Roxi, Glodok, Matahari, Ramayana, Lotus, bahkan terakhir Debenhams di Senayan City. Anggapan ini langsung dibantah oleh ekonom karena dalam lima tahun terakhir pertumbuhan riil konsumsi masyarakat robust di angka sekitar 5%. Kalau dilihat angkanya di tahun ini, pertumbuhan ekonomi sampai triwulan III-2017 masih cukup baik sebesar 5,01%. Perlu diingat bahwa konsumsi masyarakat (rumah tangga) masih menjadi kontributor utama PDB kita mencapai 54%. Sebagian pakar mengatakan sepinya gerai ritel konvensional tersebut disebabkan oleh beralihnya konsumen ke gerai ritel online seperti Tokopedia atau Bukalapak. “Gerai-gerai tradisional di Roxi atau Glodok telah terimbas gelombang disrupsi digital,” begitu kata pakar. Kesimpulan ini pun misleading karena penjualan e-commerce hanya menyumbang 1,2% dari total GDP kita, dan hanya sekitar 0,8% (2016) dari total penjualan ritel nasional. Memang pertumbuhannya sangat tinggi (eksponensial) tapi magnitute-nya belum cukup siknifikan untuk bisa membuat gonjang-ganjing industri ritel kita. Kalau konsumen tak lagi banyak belanja di gerai ritel konvensional dan masih sedikit yang belanja di gerai online, maka pertanyaannya, duitnya dibelanjakan ke mana? The Consumers Tahun 2010 untuk pertama kalinya pendapatan perkapita masyarakat Indonesia melewati angka $3000. Oleh banyak negara termasuk Cina, angka ini “keramat” karena dianggap sebagai ambang batas (treshold) sebuah negara naik kelas dari negara miskin menjadi negara berpendapatan menengah (middle-income country). Ketika melewati angka tersebut, sebagian besar masyarakatnya adalah konsumen kelas menengah (middle-class consumers) dengan pengeluaran berkisar antara $2-10 perhari. Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk. Salah satu ciri konsumen kelas menengah ini adalah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure. Ketika semakin kaya (dan berpendidikan) pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini antara lain: liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, wellness, dan lain-lain. Pergeseran inilah yang bisa menjelaskan kenapa Roxi atau Glodog sepi. Karena konsumen kita mulai tak banyak membeli gadget atau elektronik (goods), mereka mulai memprioritaskan menabung untuk tujuan liburan (experience) di tengah atau akhir tahun. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa mal yang berkonsep lifestyle dan kuliner (kafe/resto) seperti Gandaria City, Gran Indonesia, atau Kasablanka tetap ramai, sementara yang hanya menjual beragam produk (pakaian, sepatu, atau peralatan rumah tangga) semakin sepi. The Shifting Nah, rupanya pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015 Untuk kuartal II-2017 misalnya, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%. Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” ucap Ketua BPS, Suhariyanto. Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut. Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop. Berbagai fenomana pasar berikut ini semakin meyakinkan makin pentingngnya sektor leisure sebagai mesin baru ekonomi Indonesia. Bandara di seluruh tanah air ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget di Bali, Yogya, atau Bandung full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”. Destinasi-destinasi wisata baru bermunculan (contoh di Banyuwangi, Bantul atau Gunung Kidul) dan makin ramai dikunjungi wisatawan.Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah perekonomian Indonesia dimana pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi bangsa. Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia.

The drivers Kenapa leisure-based consumption menjadi demikian penting bagi konsumen dan mereka mau menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk liburan atau nongkrong di kafe/mal? Setidaknya ada beberapa drivers yang membentuk leisure economy.

#1. Consumption as a Lifestyle. Konsumsi kini tak hanya melulu memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan, papan. Konsumen kita ke Starbucks atau Warunk Upnormal bukan sekedar untuk ngopi atau makan, tapi juga dalam rangka mengekspresikan gaya hidup. Ekspresi diri sebagai bagian inhenren dari konsumsi ini terutama didorong maraknya media sosial terutama Instagram.

#2. From Goods to Experience. Kaum middle class milennials kita mulai menggeser prioritas pengeluarannya dari “konsumsi barang” ke “konsumsi pengalaman”. Kini mulai menjadi tradisi, rumah-rumah tangga mulai berhemat dan menabung untuk keperluan berlibur di tengah/akhir tahun maupun di “hari-hari libur kejepit”. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktunya untuk bersosialisasi di mal atau nongkrong di kafe sebagai bagian dari gaya hidup urban.

#3. More Stress, More Travelling. Dari sisi demand, beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja (white collar) kita semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure (berlibur, jalan-jalan di mal, atau dine-out seluruh anggota keluarga) semakin tinggi.

#4. Low Cost Tourism. Dari sisi supply, murahnya tarif penerbangan (low cost carrier, LCC) yang diikuti murahnya tarif hotel (budget hotel) menciptakan apa yang disebut: “low cost tourism”. Murahnya biaya berlibur menjadikan permintaan melonjak tajam dan industri pariwisata tumbuh sangat pesat beberapa tahun terakhir.

#5. Traveloka Effect. Momentum leisure economy semakin menemukan momentumnya ketika murahnya transportasi-akomodasi kemudian diikuti dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah melalui aplikasi seperti Traveloka. Kemudahan ini telah memicu minat luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat untuk berlibur. Ini yang saya sebut Traveloka Effect. “Welcome to the leisure economy.”

MENGAPA CAPRES 01 DAN 02 BUNGKAM SOAL BUDI PEGO, AKTIVIS LINGKUNGAN YANG DIANGGAP KOMUNIS?


Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno (kiri) adalah salah satu pendiri perusahaan yang menguasai PT BSI, perusahaan tambang emas yang beroperasi di pegunungan Tumpang Pitu, Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam debat kedua calon presiden (capres) pada 17 Februari, kandidat petahana Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyebut hampir tidak ada konflik tanah selama periode pemerintahannya. Ia menuding rivalnya, Prabowo Subianto, yang menguasai ratusan ribu hektare lahan, sebagai penyebab ketimpangan kepemilikan lahan.

Prabowo berdalih penguasaan lahan tersebut sebagai bentuk sikap patriotik untuk menghindari penguasaan lahan oleh pihak asing.

Pada kenyataannya, terdapat konglomerat penguasa ribuan hektare lahan di dua kubu calon presiden. Dan kedua kubu memiliki peran dalam melahirkan konflik tambang emas di kawasan pegunungan Tumpang Pitu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang telah menyebabkan seorang aktivis penolak tambang Heri Budiawan alias Budi Pego ditangkap dengan pasal komunisme.

Di tengah dominasi sentimen-sentimen keagamaan dalam kampanye pilpres yang mengaburkan hubungan-hubungan bisnis para politikus dan konglomerat dari dua kubu, kasus pemidanaan aktivis lingkungan ini luput dalam bahasan debat serta lenyap dalam hiruk-pikuk kampanye pemilihan presiden (pilpres) 2019 selama ini.

Kriminalisasi Budi Pego

Menurut catatan media lingkungan hidup Mongabay, sejak 1997 warga sekitar pegunungan Tumpang Pitu telah menolak aktivitas pertambangan karena alasan ancaman kerusakan lingkungan yang dapat mengganggu mata pencaharian nelayan. Pegunungan Tumpang Pitu berada di sebuah semenanjung kecil yang menghadap ke Pantai Selatan Jawa.

Selain itu, belajar dari pengalaman tsunami 1994, warga ingin mempertahankan Tumpang Pitu sebagai benteng alami yang melindungi penduduk sekitar dari ancaman gelombang besar.

Memasuki 2014, perusahaan tambang PT Bumi Suksesindo (BSI) mulai berproduksi di Tumpang Pitu dan konflik dengan warga mulai meningkat. Pada November 2015, warga menyerbu gudang PT BSI menyusul buntunya pertemuan antara PT BSI, aparat, dan warga. Dalam bentrok ini, beberapa warga menderita luka tembakan polisi.

Sesudah kejadian ini, ratusan anggota polisi dari satuan Brigadir Mobil (Brimob) menjaga lokasi tambang. Pada awal 2016, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menerbitkan keputusan yang menetapkan kawasan tambang Tumpang Pitu sebagai objek vital nasional. Status ini memberi legitimasi mobilisasi aparat keamanan mengamankan kawasan tambang dan aset PT BSI.

Namun, warga terus melawan karena berbagai dampak buruk kehadiran tambang terus mereka derita, termasuk banjir lumpur pada 2016. Banjir yang terjadi ketika musim hujan ini disebabkan oleh kelalaian PT BSI yang saat itu belum memenuhi komitmen analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang mewajibkan perusahaan membuat enam dam.

Buntut dari lanjutan protes itu, pada 2017, aktivis penolak tambang Budi Pego ditangkap dan didakwa dengan pasal komunisme. Budi dijatuhi pidana penjara empat tahun dengan tuduhan menyebarkan dan mengembangkan ajaran Komunisme, Marxisme-Leninisme di ruang publik melalui spanduk bergambar palu dan arit, simbol Partai Komunis Indonesia. Namun, pengacara Budi menyebutkan pemidanaan Budi penuh kejanggalan. Di pengadilan, barang bukti tidak dapat ditunjukkan dan tidak ada saksi yang menyebutkan Budi membuat spanduk dengan gambar palu arit.

Mulai dari Sandiaga Uno hingga Yenny Wahid

Melalui PT BSI, para politikus dan konglomerat dari dua kubu punya kepentingan dalam aktivitas pertambangan di sana.

PT BSI memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) untuk menambang emas di kawasan hutan Tumpang Pitu seluas 4.998 hektare hingga 2030. Dari luas areal IUP itu, 1.942 hektare sebelumnya berada di kawasan hutan lindung. Namun, pada 2012 Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang kini menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengajukan perubahan status kawasan hutan lindung seluas 9.743,28 hektare menjadi hutan produksi tetap kepada Kementerian Kehutanan. Pada 2013, Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan yang juga petinggi Partai Amanat Nasional (PAN), mengabulkan permohonan hanya untuk areal yang masuk dalam IUP PT BSI.

PT BSI adalah salah satu anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk (Merdeka) yang pemegang saham mayoritasnya adalah PT Saratoga Investama Sedara Tbk (SRTG) dan PT Provident Capital Indonesia.

Dua perusahaan ini didirikan oleh Sandiaga Uno, calon Wakil Presiden yang mendampingi Prabowo Subianto, dan pengusaha Edwin Suryadjaya, anak pendiri konglomerasi Astra International William Suryadjaya. William adalah mentor karier bisnis Sandiaga. Seperti dikutip oleh Kompas, Sandiaga mengaku pernah disekolahkan William dan hampir setiap pekan selama tujuh tahun selalu makan siang bersama.

Sekilas nama-nama ini lebih condong terhubung hanya dengan kubu Prabowo, lewat koneksi Sandiaga. Namun dalam Merdeka juga terdapat nama-nama yang terhubung dengan kubu Jokowi.

Yenni Wahid.

Termasuk dalam jajaran dewan komisaris Merdeka adalah Garibaldi ‘Boy’ Thohir, kakak dari Erick Thohir, Ketua Tim Pemenangan Jokowi, dan Dhohir Farisi, politikus Gerindra yang juga merupakan suami Yenny Wahid, anak pertama Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang telah mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi.

Gus Dur juga diakui Yenny telah menjalin hubungan yang dekat dengan William Suryadjaya sejak 1990-an saat keduanya mendirikan Bank Nusumma. Yenny juga sebelumnya tercatat sebagai komisaris independen Merdeka hingga Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Merdeka pada 2016. Masuknya Yenny dinilai berhubungan dengan basis NU di Banyuwangi tempat beroperasinya PT BSI.

Pada 2014, Yenny mengaku mau menerima posisi sebagai komisaris independen karena menurutnya warga sekitar mendukung perusahaan tambang itu. Padahal, penolakan warga atas aktivitas pertambangan telah terjadi sejak 1997. Namun, pada November 2015, Yenny mengaku mengundurkan diri setelah kejadian rusuh beberapa hari sebelumnya. Tapi mundurnya Yenny kemudian digantikan oleh suaminya.

Sebelumnya, Rony Hendropriyono, anak AM Hendropriyono—mantan Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) yang dekat dengan Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri—juga sempat berada di jajaran direksi Merdeka hingga RUPS 2017. Hingga terakhir pada RUPS 2016, AM Hendropriyono  juga pernah menduduki jabatan sebagai presiden komisaris.

Retorika agama dan reproduksi narasi hantu komunis

Mencermati hubungan-hubungan politikus dan pengusaha di balik perusahaan penambang emas di Tumpang Pitu, maka dapat dimengerti jika kedua kubu tidak memperhatikan substansi penolakan warga atas aktivitas penambangan di sana. Pemerintah tidak pernah mengindahkan permintaan warga agar pemerintah mengevaluasi dan mencabut izin usaha tambang PT BSI dan perusahaan lainnya di Tumpang Pitu.

Di samping itu, tidak seperti isu agama, isu konflik tanah, ketimpangan akses lahan, dan isu lingkungan hidup kurang populer bagi para politikus karena sulit dikapitalisasi untuk dikonversi sebagai suara.

Dalam kasus Budi Pego, pemerintah juga tidak berupaya mengatasi akar masalah yang membuat mudahnya menggunakan narasi komunisme untuk menyudutkan lawan politik dan oposisi. Jokowi yang juga kerap dituduh sebagai antek komunis justru ikut dalam permainan itu.

Aparat yang dapat menjangkau hingga level pedesaan seperti anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa), misalnya, telah dimobilisasi oleh Jokowi untuk melawan tuduhan dirinya sebagai komunis. Di berbagai forum dan media massa ia juga berulang kali menolak tuduhan itu sambil mengutuk dan menegaskan akan menggunakan kekerasan untuk menghadapi komunisme.

Sebagaimana retorika keagamaan yang kerap digunakan para politikus untuk memanipulasi emosi warga, reproduksi narasi hantu komunisme juga memiliki fungsi serupa. Narasi hantu komunisme digunakan untuk mengaburkan kekerasan politik yang menyebabkan ratusan ribu orang yang diduga komunis dibunuh dan puluhan ribu lainnya ditahan tanpa pengadilan pasca peristiwa 1 Oktober 1965.

Dalam narasi ini, komunisme dipahami sebagai musuh dan ancaman bagi keamanan negara maupun bagi agama. Diperkuat oleh TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang larangan komunisme yang telah direplikasi dalam berbagai peraturan perundangan lainnya, narasi hantu komunisme dapat menjadi senjata ampuh untuk menyerang musuh politik serta membungkam perlawanan.

Oleh sebab itu, berbagai aturan tentang larangan komunisme nampaknya akan terus dipertahankan. Seperti retorika keagamaan, fungsi aturan ini bagi para politikus penting untuk mengaburkan persoalan yang bagi mereka lebih fundamental dari struktur sosial dan politik Indonesia, yakni melindungi kepentingan akumulasi kekayaan privat dan perampasan sumber daya alam.